Pages

Selasa, 01 April 2014

Kacangku, Semangatku...



Menjalani sebuah rutinitas adalah hal yang selalu dikerjakan makhluk hidup di jagad raya ini. Seperti pagi ini. Pagi yang tidak begitu istimewa buatku . Maklum, saat ini aku sedang berusaha untuk bangun dari rasa sakit akan ketidak adilan di dunia ini. Membesarkan hatiku akan semua prasangka prasangka ketidak tahuan mereka akan diriku. Tapi demi sebuah tanggung jawab di sebuah perusahaan bongkar muat di daerah pelabuhan Tanjung perak, aku harus tetap menggerakkan tubuhku untuk tetap berangkat bekerja. Sebelum berangkat aku memberikan senyuman tipuan kepada ibuku tercinta. Menipu ibuku bahwa aku sedang bahagia hari ini. Aku melaju dengan kendaraan setiaku. Sempat ada pikiran haruskah aku bolos bekerja?. Ah, tapi itu terlalu kekanak kanakan. Mengesampingkan tanggung jawab demi mencari ketenangan. Tapi aku harus benar benar cari cara bagaimana caranya aku mengalihkan perhatianku untuk tidak terlalu memikirkan masalah hidupku. Diperjalanan yang sudah memasuki daerah perak, aku melihat seorang ibu separuh baya dengan kaki kiri yang cacat sedang duduk di pinggiran jalan dengan ember berisi kacang. Sebenarnya hampir setiap hari aku melihat beliau sedang menjual kacang bawang di tengah lalu lalang truk container yang keluar masuk pelabuhan. Sempat beberapa kali aku ingin melihatnya lebih dekat, dan ingin mencari tahu lebih banyak. Tapi apa daya, setiap hari aku selalu berangkat kerja dengan waktu yang mepet, dan selalu telat (dikit.. hehe). Tentu saja hari ini aku juga berangkat dengan kondisi waktu yang sama. Dari tempat aku melihat ibu penjual kacang itu, aku udah telat 5 menit. Jadi tidak mungkin aku bisa mampir untuk membeli kacang. Namun, seperti yang udah aku ceritakan tadi, hari ini aku benar benar galau. Rasanya aku ingin sekali bisa ngobrol sekalian beli kacang ibu yang sudah tidak mampu berjalan dengan normal. Sambil terus mengendarai motorku, aku cari akal bagaimana caranya tetap bisa melaksanakan niatku tadi, tanpa harus terlambat lebih lama. Tidak lama kemudian aku sampai di parkiran kantorku. Aku bergegas masuk ke ruanganku. Tampaknya manajerku sudah datang lebih awal. Kali ini aku terlambat 10 menit. Tapi rasanya aku ingin sekali kembali menemui penjual kacang itu. Keinginanku rasanya sudah semakin besar. Akhirnya aku ijin ke manajerku kalau aku ingin keluar sebentar mau ke ATM, padahal aku mau beli kacang. Hehehe. Eh tapi aku gak bohong lho. Aku bener bener ke ATM juga. Hanya saja soal beli kacang aku gak cerita. Jadi kalau manajerku baca blog ku ini, mohon maaf lahir batin ya pak. Hehehe. Setelah dapat ijin dari atasan, aku segera meluncur ke TKP. Sekitar sepuluh menit dari kantor, akhirnya aku bisa sampai. Aku juga sempet takut juga sih. Kira kira ibu ini mau gak ya aku terlalu banyak tanya soal kehidupan beliau.  Tapi misi kepo ini harus tetap terlaksana. Pembicaraan aku mulai dengan kalimat “ bu, aku beli kacang. Harganya berapaan?”. Dengan suara renyah renyah gurih ibu itu menjawab “ satu bungkus lima ratus rupiah dek” (yesss!! Aku dipanggil adek. Berarti aku masih kelihatan cute :p). “ yaudah bu aku beli dua puluh bungkus” kataku. Dengan semangat beliau bergegas mengumpulkan pesananku untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu, dengan suara lembut nan merdu aku berkata sambil deg deg an “bu, bisa ngobrol ngobrol sebentar?”. Ternyata beliau dengan senang hati meng iyakan permintaanku tadi. Dan berikut cerita kehidupan ibu penjual kacang yang saya peroleh langsung dari sumbernya.
Namanya ibu Wati. Usia beliau sudah memasuki setengah abad lebih. Tetapi beliau Nampak semangat menjalani kehidupan yang keras ini. Kaki kirinya harus di amputasi karena kecelakaan empat tahun yang lalu. Beliau menjual kacang di pinggir jalan perak dengan duduk di sebuah kayu yang dilapisi bantalan hitam dengan roda di bawahnya. Selain buat duduk, juga sebagai alat untuk bisa membantunya berjalan menyusuri jalanan. Ibu Wati berjuang keras menjual kacang demi sang buah hatinya yang masih berumur sepuluh tahun. Suaminya pergi meninggalkan ibu wati entah kemana. Namun, dengar dengar suami ibu wati memilih tinggal bersama  orang tuanya yang sudah tua, dan membiarkan ibu wati berjuang seorang diri dengan kondisi kaki seperti itu membesarkan putri  satu satunya yang duduk di bangku kelas 4 SD. Entah bagaimana ceritanya yang jelas ketika aku bertanya mengenai suaminya, Nampak dalam raut wajah beliau perasaan sedih namun ikhlas. Segera aku menutup pembicaraanku mengenai suaminya. Aku tidak mau terlalu membuka privasi beliau yang sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan. Kembali soal kacang. Ibu wati menjual kacang dengan kondisi fisik seperti itu sudah selama 3 tahun. Dulu ada seorang dermawan yang memberikan sedikit modal untuk beliau bisa berjualan kacang. Setiap harinya bu Wati menggoreng sendiri kacang dagangannya, dan mengemasnya dalam plastik, ditutup dengan jilatan api yang tentu saja tidak serapi kemasan pabrik. Semuanya dilakukan seorang diri di sebuah kamar kos yang lumayan jauh dari tempatnya menjual kacang. Setiap bulan bu Wati menyewa kamar kos seharga Rp 330.000. Jadi, setiap harinya beliau harus menyisihkan sebesar Rp 11.000 untuk digunakan membayar kos. Selain itu bu wati juga harus membayar uang sekolah putrinya sebesar Rp 20.000. Pendapatannya dari berjualan kacang tidaklah menentu. Tapi alhamdulilah, Allah selalu memberikan rejeki yang cukup untuk bisa memenuhi kebutuhannya sehari hari. Tidak sedikit pula ada orang yang memberi bantuan kepada  bu wati. Pernah suatu hari ada orang yang naik mobil. Mungkin orang itu buru-buru, atau takut terkena sinar ultraviolet sehingga tidak mau turun dari mobilnya, namun dia ingin member sedikit rejeki untuk bu Wati. Dengan cara membuka kaca mobil orang itu memberi uang koin lima ratus rupiaahh dengan cara dilempar kearah bu Wati. Saat itu bu wati mengaku tangannya lumayan sakit kena hantaman uang koin dari dermawan misterius itu. Namun dengan sabar bu wati tetap ikhlas menerima rejeki dari Allah meskipun berupa uang lima ratus rupiah, dan diberikan dengan cara dilempar. Untung saja ibu wati berbaik hati tidak membalas lemparan lima ratus rupiah itu dengan kacang yang seharga lima ratus rupiah juga. Dijamin bukannya bersyukur dapet kacang, orang kaya tersebut bakal ngomel ngomel karena kaca mobilnya harus kena lemparan kacang beserta minyak efek proses penggorengan. Di penghujung perkenalan kami, bu wati berpesan, “hiduplah seolah olah seperti besok kita akan mati. Gunakan waktumu untuk bekerja keras meskipun kita memiliki banyak kekurangan. Nikmati hidupmu. Jangan rapuh jika ada orang yang meremehkan dengan segala kekurangan kita”. Entah itu pesan dari Allah melalui bu Wati atau gimana aku gak tau. Padahal sedikitpun aku gak curhat lho tentang masalah hidupku. hehee. Padahal aku juga gak ngasih uang satu milyar lho. Tapi beliau terus menadahkan tangannya ke atas sambil berdoa beberapa saat dengan penuh rasa syukur. Lalu aku berpamitan sambil mencium tangan beliau yang keriput dan penuh perjuangan. Berharap aku dapat hikmah dan pelajaran dari kerasnya kehidupan, dan mengajarkanku untuk tetap ikhlas menerima cobaan hidup. Lega rasanya hari ini aku melaju kembali ke kantor dengan perasaan lebih baik, dan sedikit agak ngebut karena mungkin hanya aku yang pamit ke ATM selama lebih dari satu jam. Hehehe. Sekian ceritaku kali ini.. semoga bermanfaat, dan jangan ditiru  jika ada perilaku yang kurang berkenan. Semangat ya!!!



Beberapa foto bu wati beserta kacang nya yang berhasil saya ambil dengan sedikit rayuan gombal

·         Ini dia kacangnya… Renyah, Gurih, dan Mempesona (nah, lo..)

·    
     Bu Wati sedang duduk di kursi sekaligus kaki keduanya untuk membantunya berjalan sambil menunggu pembeli kacangnya.

·      
  Setiap hari sampai jam 12 siang bu Wati menjajakan kacangnya di pinggir jalan perak, yang sesekali terasa bergetar ketika ada raksasa lewat.

·         Ini kacangku…. J






Tidak ada komentar:

Posting Komentar