Menjalani sebuah rutinitas adalah hal yang selalu dikerjakan
makhluk hidup di jagad raya ini. Seperti pagi ini. Pagi yang tidak begitu istimewa
buatku . Maklum, saat ini aku sedang berusaha untuk bangun dari rasa sakit akan
ketidak adilan di dunia ini. Membesarkan hatiku akan semua prasangka prasangka
ketidak tahuan mereka akan diriku. Tapi demi sebuah tanggung jawab di sebuah
perusahaan bongkar muat di daerah pelabuhan Tanjung perak, aku harus tetap
menggerakkan tubuhku untuk tetap berangkat bekerja. Sebelum berangkat aku
memberikan senyuman tipuan kepada ibuku tercinta. Menipu ibuku bahwa aku sedang
bahagia hari ini. Aku melaju dengan kendaraan setiaku. Sempat ada pikiran
haruskah aku bolos bekerja?. Ah, tapi itu terlalu kekanak kanakan. Mengesampingkan
tanggung jawab demi mencari ketenangan. Tapi aku harus benar benar cari cara
bagaimana caranya aku mengalihkan perhatianku untuk tidak terlalu memikirkan
masalah hidupku. Diperjalanan yang sudah memasuki daerah perak, aku melihat
seorang ibu separuh baya dengan kaki kiri yang cacat sedang duduk di pinggiran
jalan dengan ember berisi kacang. Sebenarnya hampir setiap hari aku melihat
beliau sedang menjual kacang bawang di tengah lalu lalang truk container yang
keluar masuk pelabuhan. Sempat beberapa kali aku ingin melihatnya lebih dekat,
dan ingin mencari tahu lebih banyak. Tapi apa daya, setiap hari aku selalu
berangkat kerja dengan waktu yang mepet, dan selalu telat (dikit.. hehe). Tentu
saja hari ini aku juga berangkat dengan kondisi waktu yang sama. Dari tempat
aku melihat ibu penjual kacang itu, aku udah telat 5 menit. Jadi tidak mungkin
aku bisa mampir untuk membeli kacang. Namun, seperti yang udah aku ceritakan
tadi, hari ini aku benar benar galau. Rasanya aku ingin sekali bisa ngobrol
sekalian beli kacang ibu yang sudah tidak mampu berjalan dengan normal. Sambil
terus mengendarai motorku, aku cari akal bagaimana caranya tetap bisa melaksanakan
niatku tadi, tanpa harus terlambat lebih lama. Tidak lama kemudian aku sampai
di parkiran kantorku. Aku bergegas masuk ke ruanganku. Tampaknya manajerku
sudah datang lebih awal. Kali ini aku terlambat 10 menit. Tapi rasanya aku
ingin sekali kembali menemui penjual kacang itu. Keinginanku rasanya sudah
semakin besar. Akhirnya aku ijin ke manajerku kalau aku ingin keluar sebentar
mau ke ATM, padahal aku mau beli kacang. Hehehe. Eh tapi aku gak bohong lho. Aku
bener bener ke ATM juga. Hanya saja soal beli kacang aku gak cerita. Jadi kalau
manajerku baca blog ku ini, mohon maaf lahir batin ya pak. Hehehe. Setelah
dapat ijin dari atasan, aku segera meluncur ke TKP. Sekitar sepuluh menit dari
kantor, akhirnya aku bisa sampai. Aku juga sempet takut juga sih. Kira kira ibu
ini mau gak ya aku terlalu banyak tanya soal kehidupan beliau. Tapi misi kepo ini harus tetap terlaksana. Pembicaraan
aku mulai dengan kalimat “ bu, aku beli kacang. Harganya berapaan?”. Dengan suara
renyah renyah gurih ibu itu menjawab “ satu bungkus lima ratus rupiah dek”
(yesss!! Aku dipanggil adek. Berarti aku masih kelihatan cute :p). “ yaudah bu
aku beli dua puluh bungkus” kataku. Dengan semangat beliau bergegas
mengumpulkan pesananku untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu, dengan
suara lembut nan merdu aku berkata sambil deg deg an “bu, bisa ngobrol ngobrol
sebentar?”. Ternyata beliau dengan senang hati meng iyakan permintaanku tadi. Dan
berikut cerita kehidupan ibu penjual kacang yang saya peroleh langsung dari
sumbernya.
Namanya ibu Wati. Usia beliau sudah
memasuki setengah abad lebih. Tetapi beliau Nampak semangat menjalani kehidupan
yang keras ini. Kaki kirinya harus di amputasi karena kecelakaan empat tahun
yang lalu. Beliau menjual kacang di pinggir jalan perak dengan duduk di sebuah
kayu yang dilapisi bantalan hitam dengan roda di bawahnya. Selain buat duduk,
juga sebagai alat untuk bisa membantunya berjalan menyusuri jalanan. Ibu Wati
berjuang keras menjual kacang demi sang buah hatinya yang masih berumur sepuluh
tahun. Suaminya pergi meninggalkan ibu wati entah kemana. Namun, dengar dengar
suami ibu wati memilih tinggal bersama orang tuanya yang sudah tua, dan membiarkan
ibu wati berjuang seorang diri dengan kondisi kaki seperti itu membesarkan putri
satu satunya yang duduk di bangku kelas
4 SD. Entah bagaimana ceritanya yang jelas ketika aku bertanya mengenai
suaminya, Nampak dalam raut wajah beliau perasaan sedih namun ikhlas. Segera aku
menutup pembicaraanku mengenai suaminya. Aku tidak mau terlalu membuka privasi
beliau yang sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan. Kembali soal kacang. Ibu wati
menjual kacang dengan kondisi fisik seperti itu sudah selama 3 tahun. Dulu ada
seorang dermawan yang memberikan sedikit modal untuk beliau bisa berjualan
kacang. Setiap harinya bu Wati menggoreng sendiri kacang dagangannya, dan
mengemasnya dalam plastik, ditutup dengan jilatan api yang tentu saja tidak
serapi kemasan pabrik. Semuanya dilakukan seorang diri di sebuah kamar kos yang
lumayan jauh dari tempatnya menjual kacang. Setiap bulan bu Wati menyewa kamar
kos seharga Rp 330.000. Jadi, setiap harinya beliau harus menyisihkan sebesar
Rp 11.000 untuk digunakan membayar kos. Selain itu bu wati juga harus membayar
uang sekolah putrinya sebesar Rp 20.000. Pendapatannya dari berjualan kacang
tidaklah menentu. Tapi alhamdulilah, Allah selalu memberikan rejeki yang cukup
untuk bisa memenuhi kebutuhannya sehari hari. Tidak sedikit pula ada orang yang
memberi bantuan kepada bu wati. Pernah suatu
hari ada orang yang naik mobil. Mungkin orang itu buru-buru, atau takut terkena
sinar ultraviolet sehingga tidak mau turun dari mobilnya, namun dia ingin member
sedikit rejeki untuk bu Wati. Dengan cara membuka kaca mobil orang itu memberi
uang koin lima ratus rupiaahh dengan cara dilempar kearah bu Wati. Saat itu bu
wati mengaku tangannya lumayan sakit kena hantaman uang koin dari dermawan
misterius itu. Namun dengan sabar bu wati tetap ikhlas menerima rejeki dari
Allah meskipun berupa uang lima ratus rupiah, dan diberikan dengan cara
dilempar. Untung saja ibu wati berbaik hati tidak membalas lemparan lima ratus
rupiah itu dengan kacang yang seharga lima ratus rupiah juga. Dijamin bukannya
bersyukur dapet kacang, orang kaya tersebut bakal ngomel ngomel karena kaca
mobilnya harus kena lemparan kacang beserta minyak efek proses penggorengan. Di
penghujung perkenalan kami, bu wati berpesan, “hiduplah seolah olah seperti
besok kita akan mati. Gunakan waktumu untuk bekerja keras meskipun kita
memiliki banyak kekurangan. Nikmati hidupmu. Jangan rapuh jika ada orang yang
meremehkan dengan segala kekurangan kita”. Entah itu pesan dari Allah melalui
bu Wati atau gimana aku gak tau. Padahal sedikitpun aku gak curhat lho tentang
masalah hidupku. hehee. Padahal aku juga gak ngasih uang satu milyar lho. Tapi beliau terus menadahkan
tangannya ke atas sambil berdoa beberapa saat dengan penuh rasa syukur. Lalu
aku berpamitan sambil mencium tangan beliau yang keriput dan penuh perjuangan. Berharap
aku dapat hikmah dan pelajaran dari kerasnya kehidupan, dan mengajarkanku untuk
tetap ikhlas menerima cobaan hidup. Lega rasanya hari ini aku melaju kembali ke
kantor dengan perasaan lebih baik, dan sedikit agak ngebut karena mungkin hanya
aku yang pamit ke ATM selama lebih dari satu jam. Hehehe. Sekian ceritaku kali
ini.. semoga bermanfaat, dan jangan ditiru jika ada perilaku yang kurang berkenan.
Semangat ya!!!
Beberapa foto bu wati beserta kacang nya yang berhasil saya
ambil dengan sedikit rayuan gombal
·
Ini dia kacangnya… Renyah, Gurih, dan Mempesona
(nah, lo..)
·
Bu Wati sedang duduk di kursi sekaligus kaki
keduanya untuk membantunya berjalan sambil menunggu pembeli kacangnya.
·
Setiap hari sampai jam 12 siang bu Wati
menjajakan kacangnya di pinggir jalan perak, yang sesekali terasa bergetar
ketika ada raksasa lewat.
·
Ini kacangku…. J